SEJARAH SHAHOH BATIK BALIKPAPAN

Shaho diambil dari singkatan nama depan seluruh anggota keluarga. Supratono dan Haryati selaku orangtua dan ketiga anak mereka yaitu Ardi, Hendri, dan Oki. Ardi Rahayu ialah Ketua Komisi Pemilihan Umum Kota Balikpapan. Hendri Astuti tinggal di Jawa Tengah. Shaho awalnya usaha sablon seragam sekolah yang dirintis Oki dan orangtua pada 1990. Keterampilan menyablon didapat dari suatu pelatihan yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Balikpapan. "Sekitar 1993 kami diarahkan untuk menyablon motif batik," kata Oki. Untuk mendalami batik, Haryati dan Supratono berguru dua minggu ke Yogyakarta pada 1994 sedangkan Oki menekuni manajemen usaha. Usaha mikro di Jalan LKMD RT 05 Nomor 45 Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Balikpapan Utara, itu dijalankan Oki dan orangtua. Usaha sempat hancur pada 1996 akibat kebakaran dengan produksi kain seragam 2.000 meter/tahun. "Setelah itu usaha kami rintis kembali tetapi sempat nyaris bangkrut lagi karena krisis moneter 1998," kata Oki yang lahir di Balikpapan 27 Juli 1979. Krisis membuat Shaho sepi pesanan sehingga perekonomian keluarga limbung. Kursus Usaha membaik seiring pulihnya perekonomian. Shaho juga merintis kursus singkat membatik tulis. Kursus diikuti murid 4-18 tahun dari kalangan anak-anak pribumi dan ekspatriat karyawan perusahaan minyak yang berkantor di Balikpapan seperti Chevron. Menurut Oki, anak-anak ekspatriat dipungut Rp 550.000/orang untuk kursus seminggu. Anak-anak pribumi kursus cuma sehari dengan biaya Rp 50.000/orang. Materi yang diberikan satu atau dua tahap seperti desain, pewarnaan, atau keduanya. Padahal, ada sembilan tahap pembuatan batik yaitu desain, klowong atau pelekatan lilin, pewarnaan pertama, fiksasi pertama (pemberian cairan agar warna tidak luntur), tembok (melumuri kain dengan lilin), pewarnaan kedua, lorod (menghilangkan lilin), fiksasi kedua, dan pengemasan. Di kursus, Shaho yang menyediakan kain, alat mewarnai, dan pewarna. Dari kursus itu, menurut Haryati, usaha memiliki modal untuk menjalankan batik cetak dan tulis. Kursus berlangsung Oktober-Februari bersamaan dengan produksi batik tulis. Supratono mengatakan, produksi batik cetak pada Maret-September. "Saat memroduksi batik cetak tidak mungkin bersamaan dengan batik tulis sebab karyawan cuma lima dan pesanan hingga 17.000 meter setahun," katanya yang lahir di Magelang, Jawa Tengah, 2 Maret 1951. Batik tulis Shaho cuma diproduksi Oki dan orangtua. Dengan begitu, produksi tidak stabil. Terkadang, satu bulan menghasilkan satu lembar kain untuk satu helai pakaian di luar pesanan. "Kalau sibuk memberi kursus terkadang kami cuma membuat batik tulis pesanan," kata Haryati yang lahir di Magelang, 30 Juni 1952. Untuk mendalami batik tulis, Oki kursus pewarnaan alam dua minggu di Yogyakarta pada 2006. Setahun kemudian, dia kembali ke Kota Gudeg untuk kursus klowong atau melekatkan lilin pada motif yang telah dilukis. Terbatas Batik produksi Shaho amat sulit didapat. Produk tidak dijual bebas di butik atau pusat perbelanjaan seperti batik-batik lainnya. Batik Shaho cuma bisa didapat di tempat pembuatan di Batu Ampar atau di pameran-pameran yang sedang diikuti Oki. Shaho memroduksi pakaian, taplak, sprei, sarung bantal, bahkan sapu tangan. Namun, ya itu tadi, produksinya belum stabil sebab yang membuat cuma Oki dan orangtuanya. "Kami belum pernah membawa batik ke pameran lebih dari sepuluh helai pakaian," kata Oki yang mendapat penghargaan sebagai pembuat batik pertama di Balikpapan dari Wali Kota Balikpapan Imdaad Hamid. Ciri batik Shaho adalah motif ukiran khas Kalimantan. Motif itu melengkung, spiral, lingkaran, dan patung manusia. Bentuk melengkung terinspirasi liukan akar atau ranting pohon. Motif seperti itu banyak dijumpai pada corak ukiran atau lukisan orang (Dayak) Kenyah dan Bahau di Kalimantan Timur. Motif lainnya yang baru dikembangkan ialah tumbuhan kantong semar. Motif itu, menurut Haryati, digemari kalangan perempuan atau istri pejabat di Balikpapan. Kekhasan lainnya, menurut Oki, kain Shaho diwarnai dengan bahan alam seperti serbuk kayu ulin yang merupakan tumbuhan khas Kalimantan. Dengan bahan itu, kain menjadi cokelat dan tampak seperti kulit kayu. Dari pelbagai ciri itu, lanjut Supratono, masing-masing produk tidak akan sama. Dia bahkan tidak bisa membuat yang serupa dengan yang pernah dibuatnya. "Buatan tangan mana pernah bisa sama," katanya sambil duduk mencanting atau melukis dengan lilin (klowong). Harga Berapa rata-rata harga jual batik bikinan Shaho? Menurut Oki bergantung dari motif, warna, jenis kain, dan jenis produk. Sebuah produk termurah yang dijual ialah sapu tangan Rp 50.000. Yang mahal tentu pakaian dari sutera yang amat jarang dibuat kecuali pesanan dan sprei besar. Harga bisa mencapai jutaan rupiah. Di sela wawancara, Oki memperlihatkan sehelai kain bermotif ukiran yang katanya dijual Rp 500.000. Kain itu bisa dibuat menjadi satu kemeja. Bila sudah jadi kemeja harganya menjadi Rp 600.000. Bila pakaian dibuat dari kain yang kualitasnya rendah harga batik tulis kurang dari Rp 400.000. "Namun, ya itu tadi, kami tidak bisa janji selalu ada produk sebab kami membuatnya amat terbatas," kata Oki. Saya amat beruntung sebab Oki mau menjual dua lembar kain putih bermotif ukiran merah, kuning, dan biru. Awalnya saya cuma ingin melihat sejumlah koleksi Shaho. Namun, saya terpikat dengan dua helai kain tadi. Kain itu bukan untuk pakaian tetapi penghias dinding atau taplak meja dengan panjang 2 meter dan lebar 20 sentimeter. Tanpa menawar, saya membayar untuk dua helai kain yang menurut saya dijual amat murah itu.

 

Shaho diambil dari singkatan nama depan seluruh anggota keluarga. Supratono dan Haryati selaku orangtua dan ketiga anak mereka yaitu Ardi, Hendri, dan Oki. Ardi Rahayu ialah Ketua Komisi Pemilihan Umum Kota Balikpapan. Hendri Astuti tinggal di Jawa Tengah. Shaho awalnya usaha sablon seragam sekolah yang dirintis Oki dan orangtua pada 1990. Keterampilan menyablon didapat dari suatu pelatihan yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Balikpapan. "Sekitar 1993 kami diarahkan untuk menyablon motif batik," kata Oki. Untuk mendalami batik, Haryati dan Supratono berguru dua minggu ke Yogyakarta pada 1994 sedangkan Oki menekuni manajemen usaha. Usaha mikro di Jalan LKMD RT 05 Nomor 45 Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Balikpapan Utara, itu dijalankan Oki dan orangtua. Usaha sempat hancur pada 1996 akibat kebakaran dengan produksi kain seragam 2.000 meter/tahun. "Setelah itu usaha kami rintis kembali tetapi sempat nyaris bangkrut lagi karena krisis moneter 1998," kata Oki yang lahir di Balikpapan 27 Juli 1979. Krisis membuat Shaho sepi pesanan sehingga perekonomian keluarga limbung. Kursus Usaha membaik seiring pulihnya perekonomian. Shaho juga merintis kursus singkat membatik tulis. Kursus diikuti murid 4-18 tahun dari kalangan anak-anak pribumi dan ekspatriat karyawan perusahaan minyak yang berkantor di Balikpapan seperti Chevron. Menurut Oki, anak-anak ekspatriat dipungut Rp 550.000/orang untuk kursus seminggu. Anak-anak pribumi kursus cuma sehari dengan biaya Rp 50.000/orang. Materi yang diberikan satu atau dua tahap seperti desain, pewarnaan, atau keduanya. Padahal, ada sembilan tahap pembuatan batik yaitu desain, klowong atau pelekatan lilin, pewarnaan pertama, fiksasi pertama (pemberian cairan agar warna tidak luntur), tembok (melumuri kain dengan lilin), pewarnaan kedua, lorod (menghilangkan lilin), fiksasi kedua, dan pengemasan. Di kursus, Shaho yang menyediakan kain, alat mewarnai, dan pewarna. Dari kursus itu, menurut Haryati, usaha memiliki modal untuk menjalankan batik cetak dan tulis. Kursus berlangsung Oktober-Februari bersamaan dengan produksi batik tulis. Supratono mengatakan, produksi batik cetak pada Maret-September. "Saat memroduksi batik cetak tidak mungkin bersamaan dengan batik tulis sebab karyawan cuma lima dan pesanan hingga 17.000 meter setahun," katanya yang lahir di Magelang, Jawa Tengah, 2 Maret 1951. Batik tulis Shaho cuma diproduksi Oki dan orangtua. Dengan begitu, produksi tidak stabil. Terkadang, satu bulan menghasilkan satu lembar kain untuk satu helai pakaian di luar pesanan. "Kalau sibuk memberi kursus terkadang kami cuma membuat batik tulis pesanan," kata Haryati yang lahir di Magelang, 30 Juni 1952. Untuk mendalami batik tulis, Oki kursus pewarnaan alam dua minggu di Yogyakarta pada 2006. Setahun kemudian, dia kembali ke Kota Gudeg untuk kursus klowong atau melekatkan lilin pada motif yang telah dilukis. Terbatas Batik produksi Shaho amat sulit didapat. Produk tidak dijual bebas di butik atau pusat perbelanjaan seperti batik-batik lainnya. Batik Shaho cuma bisa didapat di tempat pembuatan di Batu Ampar atau di pameran-pameran yang sedang diikuti Oki. Shaho memroduksi pakaian, taplak, sprei, sarung bantal, bahkan sapu tangan. Namun, ya itu tadi, produksinya belum stabil sebab yang membuat cuma Oki dan orangtuanya. "Kami belum pernah membawa batik ke pameran lebih dari sepuluh helai pakaian," kata Oki yang mendapat penghargaan sebagai pembuat batik pertama di Balikpapan dari Wali Kota Balikpapan Imdaad Hamid. Ciri batik Shaho adalah motif ukiran khas Kalimantan. Motif itu melengkung, spiral, lingkaran, dan patung manusia. Bentuk melengkung terinspirasi liukan akar atau ranting pohon. Motif seperti itu banyak dijumpai pada corak ukiran atau lukisan orang (Dayak) Kenyah dan Bahau di Kalimantan Timur. Motif lainnya yang baru dikembangkan ialah tumbuhan kantong semar. Motif itu, menurut Haryati, digemari kalangan perempuan atau istri pejabat di Balikpapan. Kekhasan lainnya, menurut Oki, kain Shaho diwarnai dengan bahan alam seperti serbuk kayu ulin yang merupakan tumbuhan khas Kalimantan. Dengan bahan itu, kain menjadi cokelat dan tampak seperti kulit kayu. Dari pelbagai ciri itu, lanjut Supratono, masing-masing produk tidak akan sama. Dia bahkan tidak bisa membuat yang serupa dengan yang pernah dibuatnya. "Buatan tangan mana pernah bisa sama," katanya sambil duduk mencanting atau melukis dengan lilin (klowong). Harga Berapa rata-rata harga jual batik bikinan Shaho? Menurut Oki bergantung dari motif, warna, jenis kain, dan jenis produk. Sebuah produk termurah yang dijual ialah sapu tangan Rp 50.000. Yang mahal tentu pakaian dari sutera yang amat jarang dibuat kecuali pesanan dan sprei besar. Harga bisa mencapai jutaan rupiah. Di sela wawancara, Oki memperlihatkan sehelai kain bermotif ukiran yang katanya dijual Rp 500.000. Kain itu bisa dibuat menjadi satu kemeja. Bila sudah jadi kemeja harganya menjadi Rp 600.000. Bila pakaian dibuat dari kain yang kualitasnya rendah harga batik tulis kurang dari Rp 400.000. "Namun, ya itu tadi, kami tidak bisa janji selalu ada produk sebab kami membuatnya amat terbatas," kata Oki. Saya amat beruntung sebab Oki mau menjual dua lembar kain putih bermotif ukiran merah, kuning, dan biru. Awalnya saya cuma ingin melihat sejumlah koleksi Shaho. Namun, saya terpikat dengan dua helai kain tadi. Kain itu bukan untuk pakaian tetapi penghias dinding atau taplak meja dengan panjang 2 meter dan lebar 20 sentimeter. Tanpa menawar, saya membayar untuk dua helai kain yang menurut saya dijual amat murah itu.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ambrosiusharto/batik-shaho-balikpapan_54fd5841a333115e1650fb6f

Alamat Shaho Batik

Jln. LKMD Km. 03 (Belakang Kampus Universitas Tri Darma)
RT 5 No 4 Kelurahan Batu Ampar. Balikpapan East Kalimantan.
Telp: +62 813 4624 1922

E-mail: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.